1.
Teori
Adat Istiadat adalah
sebuah ungkapan yang artinya segala aturan, ketentuan, tindakan, dan
sebagainya yang menjadi kebiasaan secara turun temurun. Pada umumnya
menyangkut tentang unjuk rasa seni budaya masyarakat, seperti acara-acara
keramaian anak negeri, seperti pertunjukan randai, saluang, rabab, tari-tarian
dan aneka kesenian yang dihubungkan dengan upacara perhelatan perkawinan, pengangkatan
penghulu maupun untuk menghormati kedatangan tamu agung.
Adat istiadat semacam ini
sangat tergantung pada situasi sosial ekonomi masyarakat. Bila sedang panen baik
biasanya megah meriah, begitu pula bila keadaan sebaliknya. Adat adalah
gagasan kebudayaan yang terdiri
dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang
lazim dilakukan di suatu daerah.
Suku Jawa adalah suku bangsa
yang terbesar di Indonesia, dengan jumlahnya di sekitar 90 juta. Mereka berasal
dari pulau Jawa dan menghuni khususnya di provinsi Jawa Tengah serta Jawa Timur
tetapi di provinsi Jawa Barat, Banten dan tentu sahaja di Jakarta, mereka juga
banyak ditemukan. Keturunan-keturunan masyarakat Jawa berpendapat bahawa
bahasa Jawa adalah bahasa yang sangat sopan dan mereka, khususnya orang-orang
yang lebih tua, menghargai orang-orang yang menuturkan bahasa mereka. Bahasa
Jawa juga sangat mempunyai erti yang luas.
Suku jawa memposisikan diri sebagai suku universal dan sebagian mengatakan
jawa bukanlah sebuah suku namun dia adalah Jiwa dari setiap individu baik dia
muslim maupun non-muslim sehingga dapat kita lihat pandangan hidupnya yang
mengayomi semua agama dan muslim sebagai pemimpinnya karena memang sebagai
mayoritas bisa dilihat kesultanan-kesultanan yang dibangun oleh suku jawa yang
bercorakkan islam, namun tetap menghargai suku jawa non-muslim yang tidak
beragama islam karena agama adalah iman dan keyakinan pilihan jiwa, dan
jikalaupun orang jawa mayoritasnya adalah non muslim maka ianyapun juga
berkewajban mengayomi hak-hak suku jawa yang beragama lainnya karena memang itu
pandangan hidup yang ditanamkan kepada orang-orang jawa hal sesuai dengan
firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Mumtahanah (80:8)
2.
Kasus/Artikel
Dari teori yang ada maka kasus
dari masalah ini adalah bagaimana adat istiadat pernikahan yang berlaku
dikeluarga saya yaitu menggunakan adat jawa timur.
3.
Analisis
Dalam hal ini saya ingin
menganalisis bahwa dalam kehidupan di
keluarga saya lebih mendominasi adat jawa yaitu dari keluarga ibu saya. Contohnya
pernikahan kakak sepupu saya seperti :
Ø
Siraman
Yang harus disiapkan berupa air bunga setaman, yaitu air
yang diambil dari tujuh sumber mata air yang ditaburi bunga setaman yang
terdiri dari mawar, melati dan kenanga. Tahapan upacara siraman adalah sebagai berikut :
- calon pengantin mohon doa restu kepada
kedua orangtuanya.
- calon mantu duduk di tikar pandan tempat siraman.
- calon
pengatin disiram oleh pinisepuh,
orangtuanya dan beberapa wakil yang ditunjuk.
- yang
terakhir disiram dengan air kendi oleh bapak ibunya dengan mengucurkan ke muka,
kepala, dan tubuh calon pengantin. Begitu air kendi habis, kendi lalu dipecah
sambil berkata Niat ingsun ora mecah kendi, nanging mecah pamore anakku
wadon.
Ø
Adol dhawet
Upacara ini dilaksanakan setelah siraman. Penjualnya adalah
ibu calon pengantin putri yang dipayungi oleh bapak. Pembelinya adalah para
tamu dengan uang pecahan genting (kreweng). Upacara ini mengandung
harapan agar nanti pada saat upacarapanggih dan resepsi, banyak tamu dan rezeki
yang datang.
Ø
Midodareni
Midodareni adalah malam sebelum akad
nikah, yaitu malam melepas masa lajang bagi kedua calon pengantin. Acara ini
dilakukan di rumah calon pengantin perempuan. Dalam acara ini ada acara nyantrik untuk memastikan calon pengantin
laki-laki akan hadir dalam akad nikah dan sebagai bukti bahwa keluarga calon
pengantin perempuan benar-benar siap melakukan prosesi pernikahan di hari
berikutnya. Midodareni berasal dari kata widodareni (bidadari), lalu menjadi midodareni yang berarti membuat keadaan calon pengantin seperti
bidadari. Dalam dunia pewayangan, kecantikan dan ketampanan calon pengantin
diibaratkan seperti Dewi Kumaratih dan Dewa Kumajaya.
Ø
Ijab qobul
Peristiwa
penting dalam hajatan mantu adalah ijab qobul dimana sepasang calon pengantin
bersumpah di hadapan naib yang disaksikan wali, pinisepuh dan orang tua kedua
belah pihak serta beberapa tamu undangan. Saat akad nikah, ibu dari kedua
pihak, tidak memakai subang atau giwang guna memperlihatkan keprihatinan mereka
sehubungan dengan peristiwa menikahkan atau ngentasake anak.
Ø
Upacara panggih
Adapun
tata urutan upacara panggih adalah sebagai berikut :
a. Liron
kembar mayang
Saling tukar kembar mayang antar pengantin, bermakna menyatukan
cipta, rasa dan karsa untuk mersama-sama mewujudkan kebahagiaan dan
keselamatan.
b. Gantal
Daun sirih digulung kecil diikat
benang putih yang saling dilempar oleh masing-masing pengantin, dengan harapan
semoga semua godaan akan hilang terkena lemparan itu.
c. Ngidak
endhog
Pengantin putra menginjak telur ayam
sampai pecah sebagai simbol seksual kedua pengantin sudah pecah pamornya.
d. Pengantin
putri mencuci kaki pengantin putra
Mencuci dengan air bunga setaman
dengan makna semoga benih yang diturunkan bersih dari segala perbuatan yang
kotor.
e. Minum air degan
Air
ini dianggap sebagai lambang air hidup, air suci, air mani (manikem).
f. Di-kepyok dengan bunga warna-warni
Mengandung
harapan mudah-mudahan keluarga yang akan mereka bina dapat berkembang
segala-galanya dan bahagia lahir batin.
g. Masuk ke pasangan
Bermakna
pengantin yang telah menjadi pasangan hidup siap berkarya melaksanakan
kewajiban.
h. Sindur
Sindur atau isin mundur, artinya pantang menyerah atau pantang mundur. Maksudnya
pengantin siap menghadapi tantangan hidup dengan semangat berani karena benar.
Setelah melalui tahap panggih, pengantin diantar
duduk di sasana riengga,
di sana dilangsungkan tata upacara adat Jawa, yaitu :
i. Timbangan
Bapak pengantin putri duduk diantara
pasangan pengantin, kaki kanan diduduki pengantin putra, kaki kiri diduduki
pengantin putri. Dialog singkat antara Bapak dan Ibu pengantin putri berisi
pernyataan bahwa masing-masing pengantin sudah seimbang.
j. Kacar-kucur
Pengantin putra mengucurkan
penghasilan kepada pengantin putri berupa uang receh beserta kelengkapannya. Mengandung
arti pengantin pria akan bertanggung jawab memberi nafkah kepada keluarganya.
k. Dulangan
Antara pengantin putra dan putri
saling menyuapi. Hal ini mengandung kiasan laku memadu kasih diantara keduanya
(simbol seksual). Dalam upacara dulangan ada makna tutur adilinuwih (seribu nasihat yang adiluhung)
dilambangkan dengan sembilan tumpeng yang bermakna :
- tumpeng tunggarana : agar selalu ingat kepada yang
memberi hidup.
- tumpeng puput : berani mandiri.
- tumpeng bedhah negara : bersatunya pria dan wanita.
- tumpeng sangga langit : berbakti kepada orang tua.
- tumpeng kidang soka : menjadi besar dari kecil.
- tumpeng pangapit : suka duka adalah wewenang Tuhan Yang
Maha Esa.
- tumpeng manggada : segala yang ada di dunia ini tidak
ada yang abadi.
- tumpeng pangruwat : berbaktilah kepada mertua.
- tumpeng kesawa : nasihat agar rajin bekerja.
Ø
Sungkeman
Sungkeman adalah ungkapan bakti kepada
orang tua, serta mohon doa restu. Caranya, berjongkok dengan sikap seperti orang
menyembah, menyentuh lutut orang tua pengantin perempuan, mulai dari pengantin
putri diikuti pengantin putra, baru kemudian kepada bapak dan ibu pengantin
putra.
Kesimpulannya
adat Istiadat adalah segala aturan, ketentuan, tindakan, dan sebagainya yang menjadi kebiasaan
secara turun temurun. Adat istiadat pernikahan dikeluarga saya adalah
menggunakan adat jawa. Karena adat jawa lebih ke dalam sikap dan
perilaku sehari-hari yaitu sopan santun dan ramah.
4.
Referensi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar